Darksiders Genesis adalah arah baru yang luar biasa untuk seri Darksiders yang selama ini dikenal suka “belok” ke banyak arah berbeda. Kali ini, Genesis hadir dengan tampilan isometrik yang sekilas mungkin bikin kamu langsung mikir, “Loh, ini Diablo?”
Tenang dulu. Ini Darksiders sejati dari awal sampai akhir.
Mulai dari pertarungan keras yang memukul, dungeon crawling, eksplorasi, sampai eksekusi khas “tekan B untuk membunuh secara brutal”, semuanya ada. Memang, ini bukan game paling halus di pasaran. Tapi gameplay-nya yang solid sukses menutup semua kekurangannya. Serunya konsisten dari awal sampai tamat.
Dan jujur saja… siapa sih yang bisa bosan nyembelih gerombolan iblis tanpa henti?
Tidak? Ya, Admin juga tidak.
Cerita: Genesis, Awal dari Segalanya
Sesuai namanya, Genesis berlatar di very awal lore Darksiders. Plot utamanya sebenarnya cukup standar dan lebih berfungsi sebagai alasan agar dua karakter playable-nya, War dan Strife, bisa jalan-jalan ke berbagai lokasi, membunuh iblis gede, mematikan keran racun, dan sebagainya.
Namun, bintang sesungguhnya dari cerita berdurasi sekitar 15 jam ini adalah dinamika antara War dan Strife.
Strife yang cerdas, cerewet, dan sinis jadi penyeimbang sempurna bagi War yang kaku, serius, dan selalu merasa “ini tugasku”. Chemistry mereka langsung mengingatkan pada hubungan Peter Quill dan Drax di Guardians of the Galaxy.
Contohnya?
“Ketuk-ketuk.”
“Kamu seharusnya bilang ‘siapa di sana?’”
“Buat apa aku kasih tahu posisiku? Aku tinggal hancurkan pintu dan hadapi penyerangku.”
Dialog ringan seperti ini bikin cerita terasa hidup. Adakalanya, game ini juga menyelipkan momen mengharukan saat keduanya menghadapi rasa bersalah atas pengkhianatan terhadap Nephilim selama Perang untuk Eden. Plus, ada juga iblis-iblis yang terkubur lebih dalam—secara kiasan, tentu saja.
Gameplay: Darksiders Versi Isometrik yang Mengejutkan
Mungkin hal paling mengejutkan dari Darksiders Genesis adalah betapa mulusnya gaya pertarungan cepat dan keras khas Darksiders diterjemahkan ke kamera isometrik.
War: Tetap Brutal dan Berbobot
War bermain persis seperti di Darksiders pertama. Semua terasa enak. Serangannya berbobot, berdampak, dan bikin iblis kecil mental ke mana-mana. Aksinya tetap cepat, agresif, dan reaktif karena kamu bisa membatalkan hampir semua serangan dengan block atau dodge.
Strife: Agile, Jarak Jauh, dan Gaya Baru
Lalu ada Strife, yang akhirnya debut sebagai karakter playable. Gaya mainnya lebih agile dan fokus jarak jauh, dengan tujuh jenis amunisi berbeda. Kamu bisa upgrade arsenal, melakukan dash berlipat, dan memanfaatkan meter Hot Streak yang bisa bikin senjatanya jadi absurd kuat untuk waktu singkat.
Mode Solo dan Co-op
Di mode solo, kamu bisa beralih karakter kapan saja. Sementara di mode co-op, masing-masing pemain mengendalikan satu Penunggang Kiamat.
Co-op lokal split-screen memang agak kurang ideal. Ruang layar jadi sempit dan musuh sering menyerang dari luar layar (sneaky banget). Tapi ya, ini tetap lebih baik daripada tidak ada co-op sama sekali. Setidaknya, eksplorasi tidak mengikat kamu ke partner dengan tali super pendek.
Masalah Teknis yang Agak Menyebalkan
Sayangnya, Genesis tidak sepenuhnya bebas masalah.
Kadang, foreground menutupi aksi. Kamu bisa lihat siluet karakter, tapi tidak tahu apa yang sedang memukulmu. Ini memang tidak berlangsung lama, tapi tetap bikin frustrasi setiap kali terjadi.
Masalah lain yang cukup sering muncul adalah karakter nyangkut di geometri lingkungan. Terjadi lebih sering dari yang seharusnya. Biasanya bisa diakali dengan ganti karakter atau lompat-lompat, tapi ini jelas tanda kurangnya polesan. Agak mengecewakan, jujur saja.
Progresi: Inilah Kekuatan Terbesar Genesis
Kesuksesan terbesar Darksiders Genesis adalah kemampuannya membuat gameplay tetap menarik sepanjang kampanye, bahkan setelah tamat.
Ada upgrade wajib yang memperkenalkan aspek baru ke pertarungan dan teka-teki, seperti:
- Tremor Gauntlet milik War yang bisa di-charge untuk serangan jarak jauh
- Bom Lloyd milik Strife yang membuka teka-teki portal keren
Namun, berikut bagian serunya: kalau kamu rajin menjelajah setiap sudut peta, kamu bisa menemukan upgrade opsional super kuat.
Enhancement Death Touch milik War, misalnya, bisa memicu reaksi berantai ledakan mayat. Dan izinkan Admin jujur—jarang sekali Admin ingin replay level saat playthrough pertama. Tapi di Genesis, Admin justru aktif kembali ke stage awal dengan ability baru agar bisa membuka jalur yang dulu tertutup.
Siapa tahu dapat peti epik berisi:
- Jenis amunisi baru untuk Strife
- Enhancement baru untuk War
- Ability spesial tambahan
Creature Core System: Ribet di Awal, Nagih di Akhir
Genesis juga punya sistem progresi unik bernama Creature Cores. Sistem ini sangat mendorong replay level dan arena pertarungan untuk meningkatkan stats.
Ada tiga jenis core yang drop secara acak. Kalau kamu mencocokkan jenis core dengan slot yang tepat, bonusnya signifikan. Core duplikat bisa menaikkan level core, tapi ada strategi di sini. Core level 3 yang dipasang di slot level 1 hanya memberi benefit level 1.
Kedengarannya ribet? Tenang. Aslinya cukup intuitif dan sangat memuaskan saat kamu berhasil mengatur ulang core dan memeras stats ekstra.
Namun, saat semua slot sudah terisi dan kamu masuk ke kesulitan Apocalyptic (New Game+), grinding mulai terasa. Kamu harus mencari monster dan level tertentu untuk menaikkan core spesifik. Waktunya cukup lama, sementara peningkatan stats-nya kecil. Agak melelahkan, tapi untungnya pertarungannya tetap seru, jadi masih terasa worth it.
Kesimpulan: Spin-off yang Layak Dipuji
Darksiders Genesis mungkin tidak sehalus dan segaya seri bernomornya, tapi jangan salah paham. Ini tetap Darksiders, dan bahkan salah satu yang terbaik.
Game ini menawarkan keseimbangan kuat antara:
- Pertarungan brutal
- Teka-teki cerdas
- Eksplorasi kaya
- Mekanik progresi yang bikin nagih
Semua itu menjaga momentum tetap kencang sepanjang kurang lebih 15 jam permainan. Admin tidak bilang gaya isometrik ini harus jadi standar masa depan seri Darksiders. Tapi jujur saja, Admin sangat berharap spin-off seperti ini tidak berhenti di Genesis saja.
Karena kalau semua eksperimen sesukses ini… ya, kenapa tidak? 😎🔥
