Steam dan Valve sudah lama jadi bagian penting dalam dunia game PC. Buat banyak gamer—termasuk Admin—Steam bukan sekadar toko digital, tapi rumah besar tempat seluruh library game dikumpulkan. Mayoritas game PC Admin ada di sana, dan jujur saja, Valve selama ini terlihat sebagai salah satu perusahaan paling pro-konsumen di industri game.
Mereka sering jadi contoh soal apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang sebaiknya dihindari oleh raksasa teknologi lain. Namun, belakangan ini ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar diskon Steam Sale. Valve baru saja mengumumkan Steam Machine yang direncanakan rilis pada 2026. Banyak orang fokus ke harga. Tapi, adakalanya kita perlu melihat apa yang terjadi di balik layar.
Dan dari pengamatan itu, muncul satu kesimpulan yang agak ngeri: Steam Machine dan Valve bisa jadi benteng terakhir kepemilikan daya komputasi fisik di rumah kita sendiri.
Kekacauan Dimulai dari Perang RAM Global
Semua cerita ini bermula dari laporan WCCFTech yang cukup panas. Judulnya saja sudah drama: eksekutif Microsoft marah besar, Google memecat kepala pengadaan, dan semuanya gara-gara perang memori.
Saat ini, raksasa teknologi seperti Microsoft, Google, dan Meta bahkan menempatkan eksekutif khusus di Korea Selatan. Tujuannya satu: mengamankan pasokan RAM dari Samsung dan SK Hynix. Dua nama ini, bersama Micron, sering disebut sebagai “mafia RAM”—karena mereka bertiga menguasai produksi memori global.
Masalahnya, permintaan memori sekarang meledak gara-gara AI. Dan ledakan ini bukan main-main.
Harga RAM Naik Gila-Gilaan, Gamer Kena Imbasnya
Banyak orang bilang, “Ah, ini cuma masalah data center AI. Game gue aman.” Sayangnya, itu ilusi.
Menurut Yahoo Finance, Samsung dilaporkan menaikkan harga DDR5 hingga 100%. Awal tahun, harga kontrak masih sekitar Rp.112.000. Sekarang melonjak ke Rp.312.000 per unit. Ini bukan harga konsumen, tapi harga kontrak B2B—yang artinya semua produsen hardware ikut kena.
PlayStation, Xbox, Nintendo, bahkan PC gaming—semuanya butuh RAM. Bahkan Nintendo dikabarkan kehilangan nilai hingga 234,7 triliun rupiah akibat kekurangan chip memori, apalagi karena Nvidia ikut terlibat dalam APU Switch generasi baru.
Jadi ya, badai besar sedang datang. Tidak ada yang kebal.
AI, OpenAI, dan Kolaborasi yang Terlihat “Aneh”
Masuk ke bab berikutnya: AI dan OpenAI.
Nvidia lebih dulu mengumumkan kemitraan 10 gigawatt GPU untuk OpenAI. Tak lama kemudian, AMD menyusul dengan 6 gigawatt GPU. Dan kalau kamu baru tahu, ya, Lisa Su dan Jensen Huang memang sepupu. Dunia ini kecil, bro.
Microsoft juga tidak mau ketinggalan. Meski punya Copilot sendiri, mereka kini memiliki sekitar 27% saham OpenAI. Jadi, kita melihat satu pola: Microsoft, Nvidia, AMD, dan OpenAI saling lempar duit, sambil menyedot hardware sebanyak mungkin dari pasar.
Masalahnya bukan sekadar AI. Masalahnya adalah apa yang mereka lakukan dengan hardware itu.
Ironi Terbesar: Hardware Ada, Tapi Tidak Dipakai
Ini bagian paling absurd.
Satya Nadella sendiri bilang bahwa masalah terbesar Microsoft sekarang bukan compute, tapi power. Mereka punya GPU, RAM, dan chip menumpuk di gudang, tapi tidak punya infrastruktur listrik untuk menjalankannya.
Artinya apa? Jutaan GPU dan RAM cuma duduk manis di gudang. Tidak online. Tidak dipakai. Sementara harga RAM di pasar naik, dan konsumen dipaksa bayar mahal.
Ed Zitron bahkan memprediksi bahwa dari sekitar 4 gigawatt GPU Nvidia yang dikirim, mungkin belum 1 gigawatt pun benar-benar aktif. Sisanya? Nunggu rak dan listrik.
Lucu? Agak. Menyebalkan? Banget.
Dampaknya ke Gaming dan Konsumen
Sekarang kita sampai ke intinya: kenapa ini bahaya buat gamer?
Karena perusahaan-perusahaan ini tidak ingin kamu punya hardware sendiri. Mereka ingin kamu pindah ke:
- Cloud gaming
- Layanan streaming
- Langganan bulanan tanpa akhir
Nvidia sudah membatasi GeForce Now 100 jam per bulan. Microsoft menaikkan harga Game Pass dan mendorong cloud ke semua tier. AMD dan Nvidia dikabarkan bakal menaikkan harga GPU 10–20% di awal 2026.
Produksi GPU gaming diskrit bahkan direncanakan dipotong hingga 40%. RAM makin langka, harga makin naik. Tidak heran kalau orang mulai pakai adapter SO-DIMM ke DIMM atau bercanda soal solder RAM sendiri.
DIY ekstrem, versi survival mode.
Steam Machine: Duri di Tenggorokan Big Tech
Di tengah kekacauan ini, Valve datang dengan santai dan bilang, “Kami mau rilis Steam Machine berbasis Linux.”
Dan entah kenapa, hanya dengan eksis, Valve sudah jadi penghalang keserakahan industri. Kalau Steam Machine rilis dengan harga masuk akal dan performa oke, itu bisa jadi opsi terakhir buat gamer yang ingin tetap punya compute sendiri—tanpa harus tunduk ke cloud subscription.
Valve bukan malaikat. Tapi mereka jelas melihat ke mana arah industri ini berjalan.
Konsol Generasi Berikutnya: Siap-Siap Kaget Harga
Melihat semua ini, rasanya wajar kalau generasi konsol berikutnya bakal mahal. Prediksi liar tapi masuk akal:
- Xbox generasi baru: 16 juta rupiah
- PlayStation 6: 12.8 juta rupiah
Bukan karena teknologinya gila, tapi karena kontrak RAM, HBM, dan AI bubble yang menggembung ke mana-mana.
Penutup: Lord Gaben, Harapan Terakhir?
Ironisnya, hampir semua big tech terlihat berdiri di satu sisi. Dan satu nama besar tidak ada di sana: Gabe Newell.
Valve mungkin bukan penyelamat dunia, tapi saat semua perusahaan berusaha mencabut konsep kepemilikan dari konsumen, keberadaan mereka terasa… penting.
Sekarang pertanyaannya balik ke kamu:
- Apakah Steam Machine bisa jadi solusi nyata?
- Apakah cloud gaming benar-benar masa depan, atau cuma jebakan langganan?
- Dan apakah Microsoft, Nvidia, dan AMD sudah terlalu jauh bermain di sisi yang merugikan konsumen?
Diskusi masih panjang. Tapi satu hal jelas: perang ini baru dimulai, dan gamer ada di tengah-tengahnya.
