Pada tanggal 10 Januari 2026, saluran YouTube teknologi populer SomeOrdinaryGamers yang dipandu oleh Mutahar (sering disebut “Mudahar”), merilis sebuah video berjudul “MICROSOFT JUST STOP PLEASE…”. Dalam video berdurasi sekitar 17 menit ini, Mutahar menyampaikan keluhan tajam mengenai arah pengembangan sistem operasi Windows 11, khususnya terkait penambahan fitur yang dianggap tidak perlu (“bloat”), integrasi paksa kecerdasan buatan (AI), dan praktik yang dinilai mengabaikan persetujuan (consent) pengguna.

Artikel ini disusun untuk memberikan rangkuman komprehensif bagi Anda yang ingin memahami inti kritik dan solusi teknis yang ditawarkan dalam video tersebut tanpa harus menontonnya secara utuh. Tujuannya adalah mengurai poin-poin teknis, kekhawatiran privasi, dan langkah mitigasi yang dibahas, sehingga Anda dapat mengambil keputusan yang lebih tepat terkait penggunaan sistem operasi Anda.

Secara umum, video ini memiliki nada yang sangat kritis dan frustrasi. Mutahar menggambarkan pendekatannya sebagai “katarsis” untuk menyuarakan kekesalan banyak pengguna. Meskipun bernada emosional dengan penggunaan istilah seperti “Microslop” dan kritik keras terhadap manajemen Microsoft, inti dari video ini tetap berfokus pada pengalaman pengguna yang merasa terganggu oleh fitur-fitur yang tidak diminta namun sulit dihindari.

Gambaran Umum Isu yang Diangkat

Mutahar menyoroti serangkaian isu sistemik dalam ekosistem Windows 11 saat ini. Berdasarkan transkrip video, kritik utamanya dapat dikelompokkan ke dalam beberapa tema besar:

  • Invasi AI ke Ruang Personal: Keluhan utama berpusat pada integrasi “Copilot” dan fitur AI lainnya ke dalam elemen dasar sistem seperti File Explorer. Mutahar merasa tidak setiap aspek kehidupan digital dan file pribadi pengguna perlu “diinvasi” oleh AI yang seringkali tidak memberikan nilai tambah signifikan.
  • Rendahnya Adopsi vs. Dorongan Agresif: Video mengutip data statistik per Januari 2026 yang menunjukkan pangsa pasar Microsoft Copilot hanya sekitar 1,1%, jauh tertinggal dibandingkan pesaing seperti ChatGPT atau Gemini. Kontras antara rendahnya minat pengguna dan agresivitas Microsoft dalam memaksakan fitur ini menjadi sorotan utama.
  • Kekhawatiran Privasi dan Telemetry: Fitur seperti “Recall” (yang mengambil tangkapan layar aktivitas pengguna) dan potensi integrasi pembayaran (payment checkout) via AI memicu kekhawatiran serius mengenai keamanan data dan privasi finansial.
  • Penurunan Performa: Akumulasi fitur-fitur tambahan ini (“bloat”) dinilai memperlambat sistem dan membebani sumber daya (resource heavy), bahkan pada perangkat keras kelas atas sekalipun.

Detail Praktik “Bloat” di Windows 11

Dalam video tersebut, Mutahar memberikan contoh spesifik mengenai apa yang ia anggap sebagai praktik “bloat” yang mengganggu. Salah satu temuan yang paling disorot adalah integrasi AI ke dalam File Explorer.

Kasus “AI Actions” di File Explorer

Mutahar mendemonstrasikan bagaimana saat ia membuka folder gambar dan melakukan klik kanan pada file (contohnya gambar karakter “Knuckles”), muncul opsi “AI actions”. Ketika ia mencoba bertanya kepada Copilot tentang file tersebut, sistem justru membuka aplikasi Copilot terpisah hanya untuk memberikan informasi umum yang bisa didapat dari pencarian web biasa. Ia mempertanyakan efisiensi penggunaan sumber daya komputasi (“burning resources”) untuk fitur yang dinilai sepele ini.

Selain itu, ia juga menyinggung tentang konsep “Copilot Plus PCs”, yaitu kategori laptop baru dengan prosesor NPU khusus. Mutahar mengkritik bahwa Microsoft seolah membatasi fitur-fitur tertentu hanya untuk perangkat keras baru ini, padahal PC desktop kelas atas miliknya (dengan GPU RTX 4090 dan prosesor Ryzen 9) seharusnya lebih dari mampu menjalankannya. Ini dilihat sebagai upaya artifisial untuk mendorong penjualan perangkat keras baru daripada memberikan fungsionalitas murni.

Microsoft Copilot: Integrasi dan Kontroversi

Integrasi Microsoft Copilot menjadi sasaran kritik utama. Mutahar berpendapat bahwa Microsoft “memasukkan paksa” AI ke setiap celah sistem operasi demi angka laporan kepada investor, bukan karena kebutuhan pengguna.

Ia mengutip pernyataan dari Dell di CES yang menyebutkan bahwa konsumen sebenarnya tidak membeli komputer berdasarkan kemampuan AI, dan bahkan AI seringkali membingungkan mereka. Mutahar menilai strategi ini kontraproduktif karena semakin banyak peringatan privasi dan syarat ketentuan yang harus disetujui (seperti “Surgeon General warnings”), semakin pengguna merasa enggan dan tidak nyaman menggunakan fitur tersebut.

Privasi & Telemetry: Kekhawatiran dan Implikasinya

Aspek privasi dibahas dengan nada yang cukup serius. Mutahar mengungkit kembali kontroversi fitur Recall, sebuah fitur Windows yang sempat diperkenalkan (dan kemudian ditarik untuk perbaikan) yang secara berkala mengambil tangkapan layar aktivitas pengguna untuk membuat “memori fotografis” yang dapat dicari.

Meskipun Microsoft mengklaim data diproses secara lokal, Mutahar skeptis: “Apakah Microsoft akan melatih AI mereka menggunakan data ini? Mereka bilang tidak, tapi bisakah saya mempercayai mereka?” Ia juga menyoroti potensi bahaya keamanan jika basis data tangkapan layar tersebut diretas oleh pihak jahat.

Risiko Integrasi Pembayaran

Kekhawatiran lain muncul dari rencana integrasi “Copilot checkout”, di mana AI dapat membantu memproses pembayaran belanja online. Mutahar mempertanyakan kebijaksanaan mempercayakan data finansial kepada agen AI otomatis. “Apakah kita sudah begitu malas sehingga tidak bisa memproses halaman checkout sendiri?” tanyanya, sembari memperingatkan risiko menyerahkan data sensitif kepada perusahaan yang juga meminta akses ke data kesehatan (merujuk pada ambisi OpenAI/Sam Altman di bidang kesehatan).

Langkah Menghapus/Menonaktifkan “Bloat”

Bagian paling teknis dari video ini adalah demonstrasi upaya penghapusan fitur-fitur AI tersebut. Proses ini terbagi menjadi dua percobaan: cara resmi yang gagal dan cara komunitas yang berhasil.

1. Kegagalan Metode Resmi (RegEdit)

Awalnya, Mutahar mencoba bertanya langsung kepada Copilot: “How do I uninstall Copilot?”. Copilot memberikan instruksi untuk mengubah registry key melalui RegEdit.

Namun, instruksi tersebut terbukti gagal total. Jalur registry yang diberikan tidak akurat, dan langkah-langkahnya tidak menghasilkan efek yang diinginkan. Mutahar menyebut momen ini sebagai “halusinasi” AI, di mana AI memberikan solusi teknis palsu untuk menghapus dirinya sendiri.

2. Solusi Berhasil: Script Komunitas

Sebagai alternatif, Mutahar merekomendasikan penggunaan alat pihak ketiga dari GitHub. Berikut adalah prosedur yang didemonstrasikan (Peringatan: Lakukan dengan risiko sendiri/Do With Your Own Risk):

  1. Sumber Alat: Ia merujuk pada repositori GitHub pengguna bernama zoicbearer dengan nama proyek terkait “remove windows ai”.
  2. Eksekusi PowerShell: Langkahnya melibatkan membuka PowerShell dalam mode Administrator.
  3. Menjalankan Script: Pengguna menyalin perintah (command) dari halaman GitHub tersebut dan menjalankannya di terminal PowerShell.
  4. Antarmuka GUI: Script tersebut membuka antarmuka grafis sederhana yang memiliki tombol untuk “Remove AI” atau sejenisnya.
  5. Proses Pembersihan: Setelah tombol ditekan, alat tersebut secara sistematis mematikan proses AI, menghapus Copilot, dan menerapkan paket pencegahan agar fitur tersebut tidak terinstal ulang otomatis.

Hasil akhirnya, ikon Copilot hilang dari taskbar dan pencarian sistem tidak lagi menemukannya, meskipun Mutahar mencatat bahwa mungkin masih ada sisa-sisa komponen yang tertanam sangat dalam di sistem (“baked deep”).

Dampak terhadap Performa & Pengalaman Pengguna

Menurut video, membersihkan Windows dari fitur-fitur ini bukan hanya soal preferensi, tapi juga performa. Mutahar menegaskan bahwa Windows telah menjadi semakin lambat dari waktu ke waktu akibat beban fitur tambahan ini.

Ia membandingkan situasi ini dengan perangkat handheld gaming, di mana sistem operasi berbasis Linux (seperti SteamOS atau Bazzite) seringkali mengungguli Windows dalam hal efisiensi dan performa gaming karena lebih ringan. Argumen utamanya adalah jika Microsoft mau “membersihkan” Windows dari fitur “AI vibe-coded” ini, Windows sebenarnya bisa menjadi sistem operasi yang sangat kompetitif dan cepat, mengurangi alasan orang untuk beralih ke Linux atau Mac.

Sikap & Argumen Pembuat Video

“Just stop already, dude. Microsoft just doesn’t really like consent in this situation.”

Kutipan di atas merangkum sikap Mutahar: frustrasi terhadap pelanggaran consent (persetujuan) pengguna. Ia tidak anti-Microsoft sepenuhnya; ia menyatakan ingin Microsoft sukses dan menyukai kompetisi. Namun, ia sangat menentang cara Microsoft yang memaksa pengguna.

Ekspektasi idealnya adalah model sistem operasi yang menghormati kepemilikan pengguna: “Anda membeli lisensi, menginstalnya, dan itu menjadi sistem milik Anda. Tidak perlu diagnosa data wajib, akun online wajib, atau AI wajib.” Ia menyarankan agar semua fitur canggih ini dijadikan opsi “opt-in” (pengguna memilih untuk mengaktifkan) di tab fitur Windows, bukan diaktifkan secara default dan sulit dimatikan.

Catatan Ketidakpastian & Klarifikasi

Demi menjaga integritas informasi, berikut adalah beberapa poin dari video yang perlu dipahami konteksnya:

  • Efektivitas Script: Meskipun demonstrasi menunjukkan Copilot berhasil dihapus, Mutahar sendiri mengakui bahwa dengan update Windows yang terus berubah, efektivitas script komunitas ini mungkin bersifat sementara. Pembaca disarankan memverifikasi kompatibilitas versi terbaru sebelum mencoba.
  • Keamanan Script Pihak Ketiga: Video menampilkan penggunaan script dari GitHub. Kami mengingatkan bahwa menjalankan kode asing dengan hak akses Administrator memiliki risiko keamanan inheren. Pastikan Anda memeriksa reputasi sumber sebelum menjalankannya.

Galeri Visual Ilustratif

Catatan: Gambar di atas adalah ilustrasi umum antarmuka Windows 11 untuk memberikan konteks visual, bukan tangkapan layar langsung dari video Mutahar.

Penutup: Rangkuman & Ajakan

Video “MICROSOFT JUST STOP PLEASE…” menyuarakan kritik vokal terhadap arah pengembangan Windows 11 yang semakin sarat dengan fitur AI wajib dan praktik pengumpulan data. Melalui artikel ini, kami berharap Anda telah mendapatkan gambaran utuh mengenai argumen teknis dan privasi yang diangkat, serta memahami adanya upaya komunitas untuk mengembalikan kendali sistem ke tangan pengguna.

Sebagai pengguna, keputusan ada di tangan Anda: apakah kenyamanan fitur modern sepadan dengan kompromi privasi dan performa, atau apakah langkah pembersihan sistem (“debloating”) adalah jalur yang tepat untuk kebutuhan komputasi Anda. Kami menyarankan Anda untuk mengevaluasi setiap pembaruan sistem dengan kritis sesuai dengan prioritas penggunaan pribadi Anda.

By adminx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *