Saya baru saja membaca sebuah artikel yang sangat menginspirasi tentang Li, seorang ilmuwan perempuan yang baru saja menerima penghargaan bergengsi, Queen Elizabeth Prize for Engineering (QEPrize) 2025, dan saya merasa perlu berbagi kekaguman saya terhadap perjalanan luar biasa yang dia jalani. Li, yang dijuluki “The Godmother of AI” atau “Ibu AI,” adalah satu-satunya perempuan yang masuk dalam daftar tujuh ilmuwan yang mendapatkan penghargaan tersebut. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Raja Charles III di Istana St James, London, pada 5 November 2025.

Pernyataan Li saat menerima penghargaan itu benar-benar menyentuh hati saya. Dia mengatakan, “Saya sangat berterima kasih atas penghargaan ini dan saya berharap hal ini dapat menginspirasi anak-anak muda, terutama mereka yang belum melihat diri mereka di dunia teknologi, untuk bergabung bersama kami membangun kecerdasan buatan yang melayani semua orang.” Menurut saya, ini mencerminkan esensi utama dari pemikiran Li: AI yang dibangun harus fokus pada manusia, bukan hanya teknologi semata.

Li bukan hanya seorang ilmuwan hebat, dia juga sangat memperhatikan dampak sosial dari teknologi yang ia kembangkan. Sebagai pendiri Stanford HAI (Human-Centered AI), Li mendorong pengembangan AI yang lebih bertanggung jawab dan mengutamakan kesejahteraan manusia. Salah satu kontribusi terbesarnya adalah ImageNet, dataset visual raksasa yang berisi lebih dari 15 juta gambar dalam 22.000 kategori. Dataset ini, yang dikembangkan antara 2006 hingga 2009, membuka banyak jalan bagi revolusi deep learning dan kecerdasan buatan yang kita nikmati hari ini, seperti teknologi di kamera ponsel dan pencitraan medis.

Saya merasa sangat terinspirasi oleh kisah hidup Li. Terlahir di Beijing, China, dan kemudian pindah ke Amerika Serikat sebagai imigran dengan kondisi yang sangat terbatas, Li menunjukkan kepada kita bahwa ketahanan dan tekad adalah kunci untuk mengatasi berbagai rintangan. Meski awalnya ia sempat ragu dan tidak percaya diri ketika diterima di Princeton University, dia akhirnya berhasil meraih gelar doktoral dari California Institute of Technology (Caltech) dan mendalami bidang computer vision dan neuroscience.

Apa yang lebih menonjol lagi adalah sikap Li yang tetap rendah hati dan berusaha untuk membuat teknologi lebih inklusif. Sebagai seorang perempuan dan imigran yang berkulit berwarna, Li menghadapi berbagai tantangan, namun justru hal-hal itu yang membentuk pemikiran dan kontribusinya terhadap AI. Dalam banyak kesempatan, dia berbicara tentang pentingnya bagi perempuan dan kelompok yang kurang terwakili untuk mendapatkan ruang di dunia teknologi.

Saya juga terkesan dengan pandangannya yang lebih moderat terhadap perkembangan AI. Di tengah berbagai suara yang mempertentangkan sisi “ketakutan” dan “keajaiban” dari AI, Li memilih untuk tidak terjebak dalam ekstrem. Menurutnya, kita harus tetap menjaga kendali atas teknologi ini, dengan komunikasi publik yang lebih berbasis fakta dan sains, bukan sekadar retorika yang menakut-nakuti atau mengagungkan AI tanpa pertimbangan matang.

Bagi saya, perjalanan hidup Li bukan hanya sekadar kisah ilmuwan sukses, tapi juga kisah tentang keberanian, ketahanan, dan komitmen untuk menciptakan teknologi yang bermanfaat bagi semua orang. Mungkin, apa yang ia lakukan sekarang akan membentuk masa depan kita—di mana AI tidak hanya menjadi alat, tetapi juga bagian dari kehidupan yang lebih manusiawi dan inklusif.

Artikel ini mengacu pada tulisan yang saya temukan di Kompas yang menggali lebih dalam tentang perjalanan Li dan pencapaiannya di dunia AI.

Sumber: Kompas

By adminx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *