Masa Depan Rekayasa Perangkat Lunak Di awal abad ini, saat admin mulai kuliah rekayasa perangkat lunak (software engineering), salah satu dosen mengatakan bahwa di masa depan, setiap pekerjaan adalah pekerjaan pemrograman. Itu terjadi pada tahun 2001, dan beliau berkata bahwa kita sedang memegang “Golden Ticket” menuju keamanan kerja, alias masa depan sudah pasti… pasti resah 🤣.
Namun, adakalanya prediksi benar datang dengan cara yang tidak terduga. Baru beberapa bulan lalu, CEO GitHub mengatakan bahwa masa depan pemrograman adalah bahasa alami (natural language). Tampaknya prediksi dosen admin mulai menjadi kenyataan, namun mungkin tidak dengan cara yang beliau bayangkan.
Kecerdasan Buatan (AI) kini mampu menulis kode untuk kita melalui perintah bahasa sehari-hari. GitHub Copilot dapat melengkapi kode dan memperbaiki bug, sementara ChatGPT bisa membangun seluruh proyek dalam hitungan detik. Kondisi ini memunculkan satu pertanyaan besar.
Sebagai seorang penggiat Ilmu Komputer dan seorang yang sedang bertarung dengan dirinya sendiri, muncul pertanyaan besar bagi admin:
“Jika AI bisa melakukan pemrograman, apakah masih layak bagi kita untuk mempelajari rekayasa perangkat lunak?”
Kekuatan dan Batasan AI dalam Pemrograman
Agar diskusi ini tetap jujur dan realistis, kita perlu melihat kemampuan AI secara apa adanya. Berikut gambaran yang cukup seimbang.
Keunggulan AI dalam Pemrograman
AI menunjukkan performa yang sangat kuat pada banyak aspek teknis, di antaranya:
- Sangat mahir menghasilkan ribuan baris kode.
- Menerjemahkan antar bahasa pemrograman.
- Membuat antarmuka pengguna (UI).
- Menyelesaikan tugas berulang dan pengenalan pola.
Pada titik ini, AI jelas meningkatkan kecepatan dan efisiensi kerja developer.
Keterbatasan AI yang Tidak Bisa Diabaikan
Namun agak berbahaya jika kita menganggap AI sebagai solusi sempurna. Faktanya:
- AI tidak memahami “mengapa” di balik sebuah tugas.
- AI membutuhkan masukan manusia untuk memahami konteks dunia nyata.
- Sulit memprioritaskan tujuan bisnis jangka panjang.
- Tidak selalu dapat diandalkan dan bisa memberikan jawaban yang salah.
Dengan kata lain, AI bisa membantu, tetapi tidak bisa menggantikan tanggung jawab berpikir manusia.
Statistik Menarik tentang Penggunaan AI
Data berikut memperjelas posisi AI saat ini:
- 55% pengembang mulai menggunakan GitHub Copilot
- Namun, hanya 30% yang menerima hasilnya tanpa perubahan
Artinya, jika kita tidak menggunakan AI, kita dalam masalah. Namun, jika kita percaya 100% pada AI tanpa memeriksa ulang, kita dalam masalah yang lebih besar.
Peran Baru Developer Perangkat Lunak di Era AI
Rekayasa perangkat lunak bukan sekadar menulis kode. Developer terbaik bukanlah mereka yang mengode paling cepat, melainkan mereka yang berpikir paling dalam. AI mungkin menaikkan standar dasar (raising the floor), tetapi manusia-lah yang menaikkan batas atas (raising the ceiling).
Di masa depan, peran Developer akan bergeser menjadi beberapa peran kunci berikut.
Developer sebagai Arsitek Sistem
Developer akan lebih banyak:
- Merancang solusi terbaik.
- Memastikan sistem dapat diskalakan.
- Menyusun fondasi teknis jangka panjang.
- Developer sebagai Kolaborator AI.
AI berperan sebagai “asisten junior yang cerdas”. Developer tetap memegang kendali, sementara AI membantu implementasi teknis agar pekerjaan lebih efisien.
Developer sebagai Teknolog Etis
Selain teknis, developer bertanggung jawab memastikan solusi yang dibangun benar-benar bermanfaat bagi manusia, bukan sekadar canggih secara teknologi.
Saran untuk Mahasiswa dan Calon Developer
Agar tetap relevan dan sukses di masa depan, berikut beberapa fokus utama yang perlu diperhatikan.
Kuasai Fondasi Rekayasa Perangkat Lunak
Struktur data, algoritma, dan konsep pemrograman tetap sangat penting. Kita harus menjadi ahli dalam dasar-dasar ini agar tidak tergantung sepenuhnya pada AI.
Berpikir seperti Arsitek
Belajarlah merancang sistem yang handal dan dapat berkembang. Pemahaman sistem jauh lebih bernilai daripada sekadar hafal sintaks.
Menjadi Full-Stack dan Lintas Disiplin
Era di mana pengembang hanya fokus pada satu bidang sudah berakhir. Anda perlu memahami list dibawah ini:
- Desain
- Produk
- Data
- Manajemen proyek
Agar Kita bisa berkontribusi secara menyeluruh.
Kuasai Komunikasi dan Kolaborasi
Kemampuan menjelaskan ide dan bekerja dalam tim akan menjadi pembeda utama. Teknologi boleh berubah, tetapi kerja tim tetap krusial.
Jadikan AI sebagai Mitra Kreatif
Pelajari LLM, generative AI, dan fine-tuning. Delegasikan tugas teknis kepada AI agar kita bisa fokus pada visi dan keputusan penting.
Tetap Adaptif
Alat bisa berubah, tetapi prinsip tetap abadi. Fokuslah pada satu hal penting: belajar bagaimana cara belajar.
Kesimpulan
Developer perangkat lunak tidak kehilangan “Golden Ticket” mereka. Justru, kita sedang mengumpulkan lebih banyak tiket karena kita tidak lagi sekadar membangun perangkat lunak, kita sedang membangun kecerdasan masa depan.
Mungkin istilah “pemrogram” sudah tidak lagi tepat. Di era AI, Developer perangkat lunak. Berikut adalah:
- Visioner yang mendefinisikan masalah yang berarti.
- Jembatan yang menghubungkan alat, tim, dan berbagai disiplin ilmu.
- Pemimpin yang tidak hanya memimpin manusia, tetapi juga memimpin AI.
Masa depan bukan milik mereka yang ngekode paling cepat, melainkan milik mereka yang berpikir mendalam, beradaptasi dengan cepat, dan berkolaborasi secara efisien.
Kita tidak hanya memprediksi masa depan.
Kita lah yang membangunnya.
